Mengapa Orang Munafik Tidak Punya Rasa Malu?
Pertanyaan ini menyentuh salah satu fenomena yang telah dijelaskan dalam Al-Qur'an dan Sunnah. Dalam pandangan Islam, hilangnya rasa malu terhadap dosa merupakan salah satu tanda kerusakan hati. Ketika seseorang terus-menerus melakukan maksiat, berdusta, berkhianat, dan menolak kebenaran, tetapi tetap merasa dirinya baik, maka itu menunjukkan adanya penyakit hati yang semakin parah. Al-Qur'an menjelaskan bahwa keadaan seperti ini bukan terjadi secara tiba-tiba, tetapi melalui proses yang panjang.
1. Rasa malu (al-hayā') adalah cabang dari iman
Rasulullah ﷺ bersabda:
"Iman itu memiliki lebih dari enam puluh cabang, dan rasa malu adalah salah satu cabang dari iman."
(HR. Muhammad melalui Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim)
Dalam hadits lain beliau bersabda:
"Sesungguhnya di antara perkataan para nabi terdahulu yang masih dikenal manusia adalah: Jika engkau tidak mempunyai rasa malu, maka berbuatlah sesukamu."
(HR. Sahih al-Bukhari)
Maknanya
Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini bukan perintah untuk berbuat maksiat, melainkan ancaman. Maksudnya:
Jika rasa malu kepada Allah telah hilang, maka tidak ada lagi penghalang seseorang untuk melakukan segala bentuk dosa.
Imam Ibnu Hajar al-Asqalani menjelaskan dalam Fath al-Bari bahwa rasa malu merupakan benteng yang menghalangi manusia dari perbuatan keji. Ketika benteng itu runtuh, hawa nafsulah yang memimpin.
2. Mengapa mereka tidak merasa bersalah?
Al-Qur'an menjelaskan adanya penyakit hati.
Allah berfirman:
"Dalam hati mereka ada penyakit, lalu Allah menambah penyakitnya..."
(QS. Al-Baqarah: 10)
Menurut tafsir Ibnu Katsir, penyakit tersebut adalah:
nifaq (kemunafikan),
keraguan terhadap agama,
cinta dunia,
kebencian kepada kebenaran.
Karena penyakit itu terus dipelihara, akhirnya hati kehilangan kemampuan membedakan benar dan salah.
3. Hati bisa tertutup karena dosa yang terus-menerus
Allah berfirman:
"Sekali-kali tidak! Bahkan apa yang mereka kerjakan itu telah menutupi hati mereka."
(QS. Al-Muthaffifin: 14)
Rasulullah ﷺ bersabda:
"Apabila seorang hamba melakukan dosa, maka muncul satu titik hitam pada hatinya..."
(HR. Sunan al-Tirmidhi)
Apabila dosa terus dilakukan tanpa taubat:
hati mengeras,
nurani mati,
dosa menjadi kebiasaan,
akhirnya bangga dengan kemaksiatan.
4. Orang munafik hidup dengan citra, bukan kejujuran
Allah menggambarkan orang munafik:
"Dan apabila dikatakan kepada mereka: Janganlah berbuat kerusakan di bumi, mereka menjawab: Sesungguhnya kami hanyalah orang-orang yang mengadakan perbaikan."
(QS. Al-Baqarah: 11)
Ayat berikutnya menjelaskan:
"Ketahuilah, sesungguhnya merekalah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak menyadarinya."
(QS. Al-Baqarah: 12)
Perhatikan pola ini:
berbuat kerusakan,
merasa sebagai pembaharu,
membalikkan fakta,
menganggap dirinya benar.
Menurut tafsir Al-Qurthubi, ini adalah ciri utama kemunafikan.
5. Mengapa mereka sangat pandai mencitrakan diri?
Karena kemunafikan memang dibangun di atas kepura-puraan.
Allah berfirman:
"Apabila engkau melihat mereka, tubuh-tubuh mereka mengagumkanmu..."
(QS. Al-Munafiqun: 4)
Ibnu Katsir menjelaskan:
Mereka pandai berbicara, berpenampilan baik, menarik simpati manusia, tetapi batinnya kosong dari iman.
Inilah sebabnya orang munafik sering:
tampak santun,
pandai berbicara,
aktif di masyarakat,
tetapi hatinya menyembunyikan kebencian kepada kebenaran.
6. Mengapa mereka berani berbohong terus-menerus?
Karena dusta telah menjadi karakter.
Rasulullah ﷺ bersabda:
"Tanda orang munafik ada tiga:
apabila berbicara berdusta,
apabila berjanji mengingkari,
apabila diberi amanah berkhianat."
(HR. Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim)
Ketika dusta dilakukan berulang kali:
hati terbiasa,
rasa bersalah hilang,
kebohongan terasa normal.
7. Mengapa mereka memutarbalikkan fakta?
Allah berfirman:
"Mereka hendak memadamkan cahaya Allah dengan mulut-mulut mereka."
(QS. Ash-Shaff: 8)
Juga:
"Mereka membeli kesesatan dengan petunjuk."
(QS. Al-Baqarah: 16)
Menurut Ibnu Katsir, orang seperti ini sengaja menolak kebenaran demi kepentingan dunia.
Mereka mengetahui sebagian kebenaran, tetapi memilih menyembunyikannya.
8. Mengapa mereka tetap percaya diri?
Karena mengalami ghurūr (tertipu oleh diri sendiri).
Allah berfirman:
"Apakah orang yang dihiasi perbuatan buruknya sehingga ia memandangnya baik..."
(QS. Fatir: 8)
Inilah yang disebut oleh para ulama sebagai:
tazyīn al-'amal
yaitu setan menghiasi dosa sehingga tampak indah.
Akibatnya:
merasa paling benar,
sulit menerima nasihat,
menganggap orang saleh sebagai musuh.
9. Mengapa Allah membiarkan mereka?
Karena Allah memberi waktu (istidrāj).
Allah berfirman:
"Kami akan menarik mereka sedikit demi sedikit dari arah yang tidak mereka ketahui."
(QS. Al-A'raf: 182)
Rasulullah ﷺ bersabda:
"Apabila Allah memberikan kenikmatan kepada seorang hamba padahal ia terus bermaksiat, maka itu adalah istidraj."
(Hadis diriwayatkan dalam Musnad Ahmad dengan makna yang dikenal dalam syarah para ulama)
Artinya:
tetap kaya,
tetap dihormati,
tetap berhasil,
belum tentu tanda Allah meridhainya.
Bisa jadi justru penangguhan sebelum datang hukuman.
10. Mengapa orang baik justru sering difitnah?
Ini merupakan sunnatullah.
Para nabi mengalaminya.
Nuh dituduh sesat.
Ibrahim dilempar ke api.
Musa dituduh penyihir.
Isa dituduh berdusta.
Muhammad dituduh penyair, orang gila, dan pendusta.
Allah berfirman:
"Demikianlah, tidak ada seorang rasul pun yang datang kepada orang-orang sebelum mereka melainkan mereka mengatakan: 'Ia adalah seorang penyihir atau orang gila.'"
(QS. Adz-Dzariyat: 52)
Kebenaran sering menghadapi penentangan, terutama ketika mengusik kepentingan dan hawa nafsu.
11. Mengapa akhirnya orang munafik menganggap orang jujur sebagai ancaman?
Karena keberadaan orang jujur membongkar kepalsuan mereka.
Allah berfirman:
"Apabila dikatakan kepada mereka: Berimanlah sebagaimana orang-orang lain telah beriman, mereka berkata: Apakah kami akan beriman sebagaimana orang-orang bodoh itu beriman?"
(QS. Al-Baqarah: 13)
Mereka membalikkan keadaan:
pendusta dianggap cerdas,
pengkhianat dianggap bijaksana,
orang jujur dianggap berbahaya.
Fenomena ini juga diisyaratkan dalam hadis tentang datangnya masa penuh fitnah, ketika kejujuran dan pengkhianatan dipertukarkan dalam penilaian manusia.
Kesimpulan
Dalam perspektif Islam, hilangnya rasa malu terhadap dosa bukan sekadar persoalan akhlak, tetapi merupakan tanda melemahnya atau rusaknya hati. Al-Qur'an menggambarkan prosesnya: dosa yang terus diulang menghitamkan hati, penyakit hati bertambah, lalu seseorang dapat memandang kebatilan sebagai kebenaran dan merasa bangga dengannya. Orang yang munafik bisa tampak baik di hadapan manusia, pandai membangun citra, bahkan membalikkan fakta dan menuduh orang yang jujur sebagai penyebab masalah. Namun, penilaian manusia tidak mengubah hakikat di sisi Allah.
Tugas seorang mukmin adalah tetap berpegang teguh pada kebenaran, menegakkan keadilan, bersabar menghadapi fitnah, dan memohon kepada Allah agar diteguhkan di atas iman hingga akhir hayat. Sebagaimana firman Allah, "Sesungguhnya Allah membela orang-orang yang beriman" (QS. Al-Hajj: 38), dan "Sesungguhnya kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa" (QS. Hud: 49).
Baca juga : Hukum "Membeli Orang" atau "Suap" dalam Tinjauan Islam
Daftar Pustaka
A. Al-Qur'an
Kementerian Agama Republik Indonesia. Al-Qur'an dan Terjemahannya. Jakarta: Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur'an, edisi terbaru.
B. Kitab Tafsir Klasik
Tafsir al-Qur'an al-'Azim, karya Ibnu Katsir. Beirut: Dar Ibn Hazm/Dar al-Kutub al-'Ilmiyyah.
Al-Jami' li Ahkam al-Qur'an, karya Al-Qurthubi. Beirut: Mu'assasah ar-Risalah.
Jami' al-Bayan 'an Ta'wil Ay al-Qur'an, karya Muhammad ibn Jarir al-Tabari. Beirut: Mu'assasah ar-Risalah.
Ma'alim at-Tanzil, karya Al-Baghawi. Beirut: Dar Thayyibah.
Tafsir al-Qur'an al-'Azhim, karya Ibnu Abi Hatim.
C. Kitab Hadis
Sahih al-Bukhari, karya Muhammad al-Bukhari.
Sahih Muslim, karya Muslim ibn al-Hajjaj.
Sunan al-Tirmidhi, karya Al-Tirmidhi.
Sunan Abi Dawud, karya Abu Dawud.
Sunan an-Nasa'i, karya An-Nasa'i.
Sunan Ibnu Majah, karya Ibnu Majah.
Musnad Ahmad, karya Ahmad ibn Hanbal.
D. Syarah Hadis
Fath al-Bari, karya Ibnu Hajar al-Asqalani.
Syarh Sahih Muslim, karya Yahya ibn Syaraf an-Nawawi.
Tuhfat al-Ahwadzi, karya Al-Mubarakfuri.
E. Kitab Akidah dan Tazkiyatun Nafs
Madarij al-Salikin, karya Ibnu Qayyim al-Jauziyyah.
Ighatsat al-Lahfan, karya Ibnu Qayyim al-Jauziyyah.
Majmu' al-Fatawa, karya Ibnu Taimiyah.
Kitab al-Iman, karya Ibnu Abi Syaibah.
Al-Wabil al-Shayyib, karya Ibnu Qayyim al-Jauziyyah.
F. Referensi Kontemporer
Taisir al-Karim ar-Rahman fi Tafsir Kalam al-Mannan, karya Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di.
Nuzhat al-Muttaqin Syarh Riyadhus Shalihin, karya Musthafa al-Bugha dan rekan.
Riyadhus Shalihin, karya Yahya ibn Syaraf an-Nawawi.
.jpg)
Komentar
Posting Komentar